Tuesday, February 19, 2013

Kiprah penembak jitu (penembak runduk/sniper) Nusantara telah dikenal sejak perang Aceh pada abad ke 19. Berkat didikan tentara Jepang yang biasa bertempur dengan kondisi serba minim, para prajurit "Siluman" itu banyak berperan saat revolusi fisik 1945-1949.
 
Cukup sulit menentukan kapan ilmu tembak runduk (sniping) mulai dikenal oleh para prajurit di Nusantara. Minimnya catatan sejarah mengenai ini, baik dari masa Hindia Belanda, Jepang, maupun pasca Poklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, membuat upaya penelusuran poses tumbuh dan berkembangnya ilmu tembak runduk di tanah air laksana mencari sebatang jarum di tengah onggokan jerami. 

Kerterlibatan para penembak runduk (sniper) di dalam sebuah petempuran hampir bisa dipastikan dibayangi aroma kerahasiaan sebagai dampak budaya "ambil jalan pintas" yang acap diambil para komandan pasukan. Dalam situasi seperti ini, jangan harap bakal ada selembar catatan terbuka soal terlibatnya penembak runduk. 


Sejak bercokolnya Belanda di Bumi Pertiwi pada abad ke 17, ratusan konflik bersenjata banyak terjadi. Kala itu pola pertempurannya masih diwarnai gaya baku bunuh di Abad Pertengahan. Kedua belah pihak yang bertikai saling berbenturan secara frontal dalam jarak dekat. Dalam situasi seperti ini tak hanya prajurit rendahan bahkan perwira tinggi sekelas Jenderal pun bakal berkesempatan melihat wajah pembunuhnya disaat detik-detik akhir maut menjemputnya.

Kian intensnya peran senjata api semasa pergolakan menentang Belanda pada abad Ke 18 dan 19 membuat beragam senjata api banyak beredar di tangan sejumlah kelompok perlawanan. Sayang, penggunaannya belum maksimal mengingat kesulitan kelompok perlawanan memperoleh amunisinya. Terbukti dari uraian dalam laporan kematian para perwira pasukan kolonial Hindia Belanda yang kebanyakan tewas akibat senjata tajam atau tembakan jarak dekat.
Jendral Kohler
Mungkin satu-satunya aksi tembak runduk kelompok perlawanan yang secara resmi diakui rejim kolonial adalah insiden tewasnya Mayor Jenderal JHR Kohler di depan Mesjid Raya Baitul Rachman, Kutaraja (kini Banda Aceh) pada tanggal 14 April 1873. Saat itu pasukan ekspedisi Belanda berkekuatan sekitar 5.000 orang yang telah sembilan hari menyerang Kesultanan Aceh berhasil mendobrak pertahanan Laskar Aceh di Mesjid Raya dan kemudian membakarnya hingga ludes.

Kohler yang tengah mengadakan inspeksi situasi palagan hendak beristirahat di bawah sebuah pohon yang berjarak sekitar 100 meter dari mesjid. Mendadak sebuah tembakan meletus dan mengenai tepat di kepalanya hingga membuat Kohler tewas seketika. Pelakunya, yang kemudian di berondong pasukan Belanda, ternyata seorang remaja Laskar Aceh berusia 19 tahun yang bersembunyi di reruntuhan mesjid.


Di lain pihak, Laskar Aceh sendiri sempat merasakan betapa ampuhnya sengatan penembak runduk. Salah satu tokoh, Teuku Umar, tewas dihajar sebutir peluru emas milik seorang penembak runduk dari satuan elit Marechaussee di pantai Sua Ujung Kuala. Saat itu Teuku Umar tengah merencanakan penyerbuan terhadap kota Meulaboh pada dini hari tanggal 11 Februari 1899.

Heiho parade didalam kota
Tatkala pasukan Dai Nippon mulai merebut satu demi satu wilayah kekuasaan Hindia Belanda pada periode awal Perang Pasifik tahun 1942, saat itu ilmu tembak runduk seperti yang kita kenal sekarang mulai dikenalkan para samurai Tenno Haika.

Guna membuat pertahanan pasukan Koninklijke Nederlands Indische Leger (KNIL) di suatu lokasi morat marit, para satria kate dengan bertengger di atas pohon dan bermodal senapan standar Arisaka tipe 30 atau 38 (keduanya berkaliber 6,5 mm) menghabisi satu demi satu para perwira KNIL, dengan sebutir peluru tepat di kepalanya atau bagian vital lainya. Begitu si opsir tewas, anak buahnya seketika ambil langkah seribu. Tak jarang mereka harus terima nasib "menyusul" komandannya ke alam baka dengan cara sama meski telah sekuat tenaga berlari menjauhi lokasi pertempuran.

Dalam beraksi para penembak runduk Jepang tak hanya dibekali senapan standar. Sejumlah kesatuan di jajaran Angkatan Darat kekaisaran Jepang sempat kebagian senapan Arisaka tipe 97. Hakikatnya, senjata ini merupakan pengembangan Arisaka tipe 38 untuk memenuhi kebutuhan tembak runduk yang sejati. Perbedaan kasat mata diantara keduanya terutama sekali pada penempatan teropong bidik dengan perbesaran 2,5 kali diatas kamar peluru senapan tipe 97. Belakangan posisi tipe 97 digeser tipe 99 dengan kaliber 7,7 mm dengan skala perbesaran teropong bidik empat kali.

Bercokolnya pasukan Jepang selama 3,5 tahun membawa dampak yang amat luas pada berbagai sendi kehidupan di Tanah Air. Terutama sekali dari segi militer. Kian menipisnya sumber daya manusia memaksa pasukan Jepang merekrut banyak tenaga muda pribumi dari semua wilayah taklukannya, termasuk Indonesia.

Ribuan pemuda dilatih ilmu kemiliteran guna disiapkan menjadi personil Heiho dan PETA. Jika para Heiho (yang berarti pembantu prajurit) diberi kesempatan merasakan ganasnya api peperangan di berbagai palagan Perang Pasifik, tak demikian dengan personil PETA. biarpun telah di gembleng dengan amat kerat di Giyugun Rensetai (semacam pusdiklat) PETA di Bogor, mereka harus puas hanya kebagian tugas sebagai Bo-ei Giyugun Chiho atau sebagai pasukan pertahanan lokal.

Semasa awal latihan, para calon personil Heiho dan PETA diajari memakai aneka senjata tua yang dirampas dari pasukan KNIL seperti karaben Hamburg kaliber 6,5 mm dan senapan mauser Kav 1889 kaliber 7,92 mm. Setelah dianggap mahir baru beralih ke senjata standar tentara Jepang sendiri dari jenis Arisaka tipe 30 dan 38.

Siswa yang berbakat akan diarahkan menjadi seorang penembak runduk yang akan dikirim ke garis depan. Di perkirakan jumlah pemuda Indonesia yang beruntung mengeyam pendidikan senapan runduk versi Jepang hanya sekitar 70 orang. Tambahan lagi, pendidikan mereka baru selesai dikala pasukan Jepang sudah mulai terdesak Sekutu disejumlah tempat.


Peruntukan boleh saja beda, namun landasan ilmu kemiliteran yang terlanjur diserap kedua satuan paramiliter bentukan Jepang itu toh tetap sama. Antara lain kemampuan bertahan hidup di hutan lebat dan bertempur secara gerilya dengan bekal amunisi minim. Dibarengi disiplin total, dengan sendirinya para remaja didikan Jepang ini tanpa sadar telah terbiasa menjadi penembak runduk alami. Falsafah "satu peluru satu nyawa" telah meresap kedalam jiwanya. Sebuah kebiasaan yang terasa sekali manfaatnya dalam perang mempertahankan kemerdekaan 1945-1949.

Modal awal berbagai badan perjuangan yang di bentuk pada September 1945, siapa lagi kalau bukan para pemuda didikan Jepang tersebut. Biar hanya berbekal senjata tua bekas KNIL dan Jepang, para pemuda tetap menghadang gerak maju pasukan Inggris dan Belanda di berbagai wilayah. 


TKR
Pertempuran sengit di Surabaya dan Ambarawa (1945), pihak Inggris sempat mengerahkan pasukan elit Gurkha yang telah banyak menyerap taktik perang rimba dan tembak runduk model Jepang. Alhasil dalam beberapa pertempuran sempat terjadi duel antar penembak runduk Gurkha dengan "rekan sejawat" dengan satuan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) . Hebatnya lagi, duel tadi acap kali terjadi bukan hanya di permukaan tanah tapi juga sampai di atas pepohonan lebat.

Selama berkobarnya Perang kemerdekaan 1 dan 2, tak hanya penembak runduk saja namun kebanyakan pasukan TRI (TNI) seta anggota Laskar kejuangan lainnya terpaksa harus bertempur dengan modal peluru sangat minim. Berbulan-bulan mereka harus kucing-kucingan dengan pasukan Belanda, tapi peluru dikantong tak lebih 10 butir.

Akibatnya dalam setiap baku tembak bisa ditebak suara berondongan tembakan selalu datang dari posisi pasukan Belanda yang suka obral peluru. Sementara tembakan di pihak Republik hanya terdengar sesekali. Biarpun begitu, tembakan tunggal pihak Republik bikin ciut nyali para sinyo Koninklijke Leger (KL). Pasalnya, tiap tembakan "kaum ekstrimis" itu tak pernah meleset dan selalu minta korban jiwa diantara rekan-rekannya.

Hanya berkat semangat juang yang tinggi plus segudang akal cerdiklah para personil gerilyawan Republik mampu bertahan dalam kondisi serba pas-pasan sehingga tercapainya pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda pada bulan desember 1949.(Santoso Purwoadi)


Sumber : http://garudamiliter.blogspot.com/2012/03/ilmu-siluman-warisan-samurai.html

0 comments:

Post a Comment

Follow by Email

Blog Archive

About Me

Popular Posts