Selasa, 03 November 2015

Etnis Minoritas Giay Vietnam

Dukuh Ta Van Giay, kabupaten Sa Pa, provinsi Lao Cai terletak di tengah-tengah lembah Muong Hoa yang romantis pemandangannya. Di pinggir anak sungai Hoa yang berliku-liku dan airnya mengalir hari siang malam, berbagai rumah kecil warga etnis minoritas Giay bersandar pada gunung dan saling berdekatan sehingga memberikan kesan yang hangat. Itulah kekhasan dari satu komunitas yang memiliki kehidupan rukun dengan lingkungan alam ini. Rumah adalah tempat tinggal, tempat kerja dan melakukan aktivitas sehari-hari dari seluruh anggota keluarga, jadi juga seperti semua etnis minoritas lain, warga etnis minoritas Giay sangat hati-hati dalam membangun rumah.

Menurut konsep warga etnis minoritas Giay, lahan dan kiblat rumah merupakan 2 faktor amat penting yang menentukan kalah-menangnya tuan rumah. Untuk memilih tanah membangun rumah, mereka biasanya meminta bantuan dari para dukun. Setelah memohon kepada para dewa, dukun akan mencarikan lahan yang cocok bagi keluarga dan marga tersebut. Ketika mencari tempat membangun rumah, warga etnis minoritas Giay selalu memperhatikan sumber air. Mereka biasanya tinggal di daerah lembah dan di dekat sungai dan anak sungai. Selain makna spiritualitas yaitu tempat yang sejuk, tenteram, mereka juga bisa mendapat syarat untuk melakukan cocok tanam, dll. Setelah lahan terpilih, warga etnis Giay akan memilih kiblat rumah.


Bapak San Chang, seorang lansia di dukuh Ta Van Giay, memberitahukan: “Di depan rumah harus lepas tidak ada yang menghalangi. Di belakang rumah ada tempat sandara, biasanya bersandar pada gunung. Jika rumah dibangun di lahan yang datar, maka sedikit-dikitnya di belakang rumah juga harus ada gunung dikejauhan. Yang paling menjadi pantangan ialah di depan rumah ada gunung batu atau batu besar”.

Warga etnis Giay berpendapat bahwa dengan kiblat rumah ini, maka dewa gunung akan melindungi mereka dari hal-hal yang buruk.

Dengan material pembangunan yang sudah ada di lingkungan alam, para warga etnis Giay biasanya membangun rumah dengan 2 jenis yaitu kayu atau bambu yang dilapisi dengan campuran tanah dan jerami. Material pembangunan ini bergantung pada syarat ekonomi masing-masing keluarga. Bapak San Chang memberitahukan: “Kayu yang dipilih pertama-tama bukan dari pohon yang disambar petir, ada sarang burung gagak atau pucuknya tidak terpancung. Khususnya tidak boleh menggunakan kayu ini untuk membuat tiang rumah. Sedangkan jenis kayu apa saja juga boleh”.

Tinggi rumah warga etnis Giay kira-kira 1,8 meter, sedangkan lebarnya kira-kira dari 9 sampai 10 meter. Dalam rumah warga etnis Giay ada 3 ruangan dan masing-masing memiliki makna tertentu. Di ruang tengah terletak altar pemujaan nenek moyang dan juga digunakan sebagai ruang menerima tamu. Ruang ini dianggap sebagai tempat yang paling suci dalam rumah maka hanya pada kesempatan Hari Raya, Hari Tahun Baru, hari perkabungan, mereka baru berkumpul dan makan bersama di tempat ini. Menurut adat istiadat warga etnis Giay, kaum wanita tidak boleh tidur di ruang ini.
Kamar para anggota keluarga terletak di dua sisi dari ruang tengah. Jika ada banyak menantu perempuan, maka kamar suami-istri tertua akan berada di sebelah arah matahari terbenam, sedangkan kamar menantu perempuan berikutnya terletak di sebelah arah matahari terbit.

Rumah tradisional warga etnis Giay biasanya mempunyai tiga pintu: pintu utama di ruang tengah, satu pintu masuk dapur dan satu pintu di belakang rumah. Ruang tengah dibuat lebih mundur terbanding dengan dua ruang di sebelahnya. Bapak San Chang memberitahukan: “Pintu masuk dapur digunakan karena ada larangan dan tidak boleh melewati ruang tengah. Tidak boleh membawa daging segar lewat pintu utama. Ibu yang baru melahirkan juga tidak boleh melewati pintu utama jika anaknya belum diperkenalkan kepada nenek moyang”.

Di depan pintu utama rumah ini, warga etnis Giay juga memasang bola-bola berwarna-warni yang dibuat dari kain untuk menghiasi rumah. Ini merupakan satu ciri budaya yang indah dari warga etnis Giay. Rumah warga etnis minoritas Giay merupakan tempat yang menyimpan ciri aktivitas tradisional serta aktivitas sehari-hari dari mereka.

( Credit image : vov4.vn )

0 komentar:

Posting Komentar