Tuesday, February 19, 2013

Masyarakat Indonesia tentunya sudah tidak asing dengan nama ikan Belida (ada yang menyebutnya Belido). Apalagi para penggemar kuliner Pempek Palembang berikut kremesannya berupa kerupuk kemplang dan lain-lain. Menurut masyarakat Sumatera Selatan, Belida artinya makhluk yang pandai berdiplomasi (be = punya, lida = lidah, pandai bersilat lidah). Tapi ternyata ikan asli Indonesia ini Semarang sudad diambang kepunahan, sebabnya selain konsumsi terhadap ikan ini semakin meningkat, upaya konservasi masih sangat kurang.

Istilah Indonesia: Belida, Lopis, Balida, Belido

Nama: Belida (Notopetrus Chitala HB)
 
Ciri-ciri:
Berukuran sedang, panjang maksimum 100 cm dan berat rata-rata 0,5-1 kg, di alam asli bisa mencapai 2 - 4 Kg. Bentuk badannya pipih dengan kepala yang berukuran kecil dan di bagian tengkuknya terlihat bungkuk. Rahang atas letaknya jauh di belakang mata. Badan tertutup oleh sisik yang berukuran kecil. Sisik di bagian punggungnya berwarna kelabu sedangkan di bagian perutnya putih keperakan.

Pada bagian sisinya terdapat lingkaran putih seperti bola-bola hitam yang masing-masing dikelilingi lingkaran putih. Dengan bertambahnya umur hiasan tubuh ikan belida akan hilang dengan sendirinya dan diganti oleh garis-garis kehitaman, sistem reproduksi ikan ini dengan bertelur. Merupakan ikan air tawar yang bersifat predator atau pemangsa dan nokturnal (aktif pada malam hari).

Pada siang hari biasanya bersembunyi diantara vegetasi. Makanannya berupa anak-anak ikan dan udang. Tak jarang mangsanya berukuran lebih besar. Ikan belida jantan bertugas membuat sarang yang dibuatnya dari ranting dan daun, juga menjaga telur dan anak-anaknya. Ikan belida dapat menghirup udara dari atmosfir. Ikan karnivora ini hidup di kedalaman 2-3 meter di tempat-tempat gelap. Saat air sungai meluap, mereka naik ke rawa-rawa untuk kawin dan melepas telurnya di sana.


Taksonomi: Isospondyli, Suku Notopterridae

Habitat: Sungai-sungai besar dan daerah yang sering tergenang banjir. Di daerah dataran rendah tidak lebih dari 30 m dpl.

Penyebaran: Sumatera, pernah ditemukan di Jawa dan Kalimantan.

Populasi: Langka !!!

Regulasi:
Belum dilindungi Undang-Undang (Padahal sudah masuk kondisi kritis kepunahan)

Upaya Konservasi:
Kolam, Aquarium dan Keramba.

Behavior
Malam, ikan ini Nokturnal (aktif di malam hari)

Bisa Dikonsumsi ?
Bisa, tapi mengingat populasinya yang semakin langka sebaiknya jangan. Ikan ini harus bisa dipertahankan sebagai kekayaan hayati perairan Nusantara.

Sumber:http://www.fishyforum.com/

0 comments:

Post a Comment

Follow by Email

Blog Archive

About Me

Popular Posts