Tampilkan postingan dengan label Traveling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Traveling. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Maret 2016

Suku Nanai Rusia

Timur Jauh masuk menjadi bagian wilayah Rusia sejak lebih dari 150 tahun yang lalu. Bagaimana kehidupan di sana sebelum kedatangan bangsa Rusia dan Tiongkok? Dan bagaimana kehidupan para penduduk primitif di Timur Jauh di masa modern ini? Berikut RBTH akan menyajikan kisahnya.


Pada pertengahan abad ke-19, bangsa Tiongkok dan Rusia berhasil menjamah wilayah yang kini dikenal sebagai Primorsky atau Timur Jauh. Mayoritas penduduk yang tinggal di wilayah tersebut merupakan orang dari suku Nanai, Udege, dan Oroch. Kawin campur antara penduduk suku setempat dengan penduduk Tiongkok menghasilkan kelompok penduduk yang dikenal sebagai suku Tazy. Saat ini, hanya tersisa sekitar 276 orang penduduk suku Tazy di wilayah tersebut.

Pada zaman dulu, penduduk asli Timur Jauh kerap disebut ‘inorodtsy’ (non-Rusia), tapi sekarang mereka dianggap sebagai penduduk pribumi wilayah Timur Jauh. Terkadang penduduk Rusia juga menyebut mereka sebagai ‘orang kecil’ dari wilayah Amur (malye narody). Kata ‘kecil’ mengacu pada jumlah anggota kelompok tersebut, bukan pada ukuran fisik ataupun signifikansi kehadiran mereka.

Kredit foto: TASS/Yuri Muravin

Para ilmuwan mengelompokan penduduk di wilayah ini sebagai penutur bahasa Tunguso-Manchurian. Sebagian penduduk asli Timur Jauh telah melakukan urbanisasi sejak lama, tapi masih ada pula penduduk yang bertahan hidup di taiga (hutan jarum) hingga hari ini. Selama berabad-abad, pekerjaan utama para penduduk pribumi taiga Timur Jauh adalah berburu dan mencari ikan, dan hal tersebut masih bertahan hingga saat ini.

Ketika bangsa Rusia pertama kali bertemu dengan penduduk asli Timur Jauh, mereka terkagum-kagum akan kehebatan suku primitif tersebut dalam berburu menggunakan panah, menjala ikan menggunakan tombak, serta kemampuan mereka membuat perahu kayu yang digunakan untuk menyebrangi sungai. Perahu kecil yang mereka buat disebut omorochka, sementara perahu yang dapat mengangkut lebih dari satu orang disebut bata. Pakaian mereka terbuat dari kulit binatang, atau terkadang bahkan kulit ikan, yang dijahit sendiri.

Kredit foto: TASS/Yuri Muravin

Pada sekitar abad ke-19, para penduduk pribumi Timur Jauh mulai melakukan transaksi perdagangan dengan penduduk Rusia dan Tiongkok. Mereka menjual kulit bulu hasil berburu untuk ditukar dengan senjata dan mesiu. Namun, seiring dengan perkembangan zaman dan kontak dengan dunia luar, opium, alkohol, dan cacar juga masuk dan mengganggu kedamaian wilayah ini.

Kehidupan penduduk Timur Jauh menginspirasi Vladimir Arseniev, seorang ilmuwan, penulis, dan penjelajah yang menulis buku “Dersu Uzala”. Judul buku tersebut diambil dari nama teman Arseniev yang berasal dari suku Nanai, yang menjadi pemandu selama ia menjelajahi wilayah Timur Jauh. Pada 1975, buku tersebut diangkat menjadi sebuah film, hasil kerja sama Soviet dan Jepang. Film karya Akira Kurosawa itu kemudian memenangkan penghargaan Oscar sebagai Film Berbahasa Asing Terbaik.

Kredit foto: TASS/Yuri Muravin

Arseniev menyebut karakter penduduk asli Timur Jauh sebagai ‘komunis primitif’. Ia berpendapat bahwa gaya hidup mereka, hubungan antarpenduduk, serta pandangan mereka terhadap dunia, lebih adil dan alami dibanding orang-orang Eropa. Penduduk Timur Jauh menganggap semua hal sebagai benda hidup. Dersu bahkan menyebut semua benda sebagai ‘orang’, termasuk binatang, matahari, dan api. Penduduk Timur Jauh juga memiliki kesadaran lingkungan yang sangat tinggi.

Penduduk Timur Jauh Masa Kini
Kini, jumlah penduduk asli yang tersisa di Timur Jauh sangat sedikit, yakni sekitar 1.500 hingga dua ribu orang. Sebagian besar penduduk asli tinggal di bagian utara wilayah Timur Jauh, yakni di Distrik Terneysky, Krasnoarmeisky, dan Pozharsky. Hutan jarum yang ada di sana masih tetap tak terjamah dan tak tersentuh pembangunan, didominasi oleh elk, rusa Siberia, beruang, dan harimau lokal.
Jumlah penutur asli bahasa Udege yang tersisa saat ini sangat sedikit, namun banyak penduduk Udege yang masih menjalankan gaya hidup tradisional mereka. Wilayah berpenduduk suku Udege yang paling terkenal adalah Krasny Yar, yang ditinggali oleh enam ratus penduduk, dan Azgu, dengan populasi sekitar dua ratus orang. Desa tersebut sangat sulit dicapai, namun tak menyurutkan minat para turis dari Jepang, Korea, dan negara-negara lain untuk mengunjungi Festival Budaya Udege yang diselenggarakan di Krasny Yar setiap tahun.

Kredit foto: TASS/Yuri Muravin

Anda dapat menyaksikan kehidupan sehari-hari para penduduk Udege di masa kini melalui film “The Forest People” (Lesnye Lyudi). Film karya Vasily Solkin dan Gennady Shalikov ini dirilis pada 2012 dan dibuat atas kerja sama antara stasiun televisi Vladivostok dengan kelompok pecinta lingkungan Zov Taigi.
Berikut tautan film tersebut:
Sumber: zovtv/YouTube
Taman Nasional Legendaris Udege terletak di Distrik Krasnoarmeisky di wilayah Timur Jauh. Taman nasional ini menawarkan gambaran tentang kehidupan di taiga. Taman ini hendak membangun minat pariwisata berbasis lingkungan dan etnografis di area tersebut. Pintu masuk taman nasional ini terletak di Desa Roshchino, yang dapat dicapai menggunakan bus atau mobil dari Vladivostok atau Khabarovsk.
Saat ini, pemerintah juga tengah membangun sebuah taman nasional lain di bagian utara Primorye, yakni Taman Bikin yang dibangun di Distrik Pozharsky. Namun demikian, pembangunan taman ini ditentang oleh penduduk asli setempat.

Kredit foto: TASS/Yuri Muravin

Pembangunan taman tersebut bertujuan melindungi Sungai Bikin—yang kerap disebut sebagai ‘Amazon Rusia’, dari penebangan liar. Namun, penduduk suku Udege dari Krasny Yar khawatir cara hidup tradisional mereka akan terganggu dengan kehadiran taman ini. Di Rusia, penduduk suku primitif memiliki hak khusus dalam berburu dan mencari ikan, karena dua hal tersebut merupakan hal yang sangat penting bagi mereka dan sekaligus bagian dari cara hidup mereka. 

 Pemerintah berjanji kepentingan penduduk setempat di wilayah tersebut akan tetap dijamin. Mereka dapat tetap bisa mengambil kayu hutan, kacang-kacangan, beri-berian, berburu musang dan ikan. Pemerintah Timur Jauh pun menyebutkan bahwa Taman Nasional Bikin akan menjadi taman nasional pertama di Rusia yang dikelola oleh komunitas penduduk asli setempat.

Sumber :  http://indonesia.rbth.com


Selasa, 27 Agustus 2013

Objek Wisata Di Indonesia

1. Daerah Istimewa Aceh.


  • Museum Negeri Banda Aceh.
  • Gunongan, sebuah bangunan yang merupakan gunung buatan.
  • Makam Sultan Iskandar Muda.
  • Perpustakaan Islam Tanah Abee, khusus menyimpan buku-buku Islam.
  • Danau Laut Tawar.
  • Pemandian air panas Simpang Balek.
  • Taman Nasional Gunung Leuser.
2. Bali.

  • Museum Bali, dahulunya bernama Gedong Arca.
  • Pantai Sanur, pemandangan pantai yang indah permai.
  • Pura Bukit Sari Sangeh, dengan kera-kera jinaknya.
  • Pantai Nusa Dua.
  • Pantai Kuta.
  • Istana Tampaksiring.
  • Danau Batur, di lereng gunung Batur yang masih aktif.
  • Pura Tanah Lot, pura di pantai yang terpisah.
  • Pura Besakih, pura yang terbesar di Bali.
  • Danau Bedugul, yang disebut juga dengan Danau Beratan.
  • Air panas Banjar, dikelilingi alam pedesaan yang unik, dekat biara Budha.
3. Banten.

  • Keraton Surosowan di Banten.
  • Benteng Speelwijck di Banten.
  • Pelabuhan Ratu, pemandangan pantai.
  • Ujung Kulon, cagar alam yang indah.
4. Bengkulu.

  • Danau Dendam Tak Sudah.
  • Benteng Marlborough.
  • Hutan Wisata Bukit Daun, diantara Bengkulu dengan Curup.
  • Air terjun Kepala Curup, dengan ketinggian 100 meter.
5. DKI Jakarta.

  • Museum Pusat, lebih dikenal dengan Museum Gajah.
  • Monumen Nasional (Monas).
  • Museum Wayang, yang menyimpan koleksi wayang dari daerah-daerah bahkan Asia Tenggara.
  • Taman Impian Jaya Ancol, rekreasi laut.
  • Palau Seribu.
  • Kebun Binatang Ragunan.
  • Taman Ismail Marzuki, dengan Gedung Planetariumnya.
  • Monumen Proklamator.
  • Taman Mini Indonesia Indah.
  • Monumen Pahlawan Lubang Buaya.
6. Jambi.

  • Taman Mayang Mangurai, di dalamnya terdapat museum rumah adat Jambi.
  • Taman Anggrek.
  • Air terjun Rantau Randai, air terjun bertingkat dua.
  • Batu bertulis Karang Birahi, terdapat telapak kaki zaman dahulu.
  • Danau Kerinci.
7. Jawa Barat.


  • Monumen Bandung Lautan Api.
  • Taman Hutan Raya Ir. Juanda.
  • Kawah Tangkuban Perahu.
  • Air panas Ciater.
  • Istana Kepresidenan di Bogor.
  • Kebun Raya Bogor.
  • Taman Safari Indonesia, terletak di daerah Cisarua.
  • Keraton Kasepuhan/Kanoman di Cirebon.
8. Jawa Barat.

  • Museum Batik di Pekalongan.
  • Masjid Agung Demak, yang dibangun oleh para Walisongo.
  • Museum kereta api Plagan di Ambarawa.
  • Kompleks Candi Gedong Songo, yang berjumlah 9 buah candi.
  • Candi Borobudur/Mendut di Magelang, candi Budha terbesar di Indonesia.
  • Makam RA Kartini di Rembang, pelopor pergerakan wanita Indonesia.
  • Loka wisata Baturaden.
  • Taman wisata Dieng, sebuah dataran tinggi yang sangat menarik.
  • Goa Jatijajar, di kebumen.
  • Pantai Logending.
  • Istana Mangkunegaran/Kasunanan di Surakarta.
  • Waduk Gajahmungkur di Wonogiri.
  • Air terjun Tawangmangu, di Karanganyar, di lereng Gunung Lawu.
  • Taman Margaraya Tinjomoyo di Semarang.
  • Museum Ronggowarsito di Semarang.
9. Jawa Timur.


  • Museum Trowulan, bekas ibukota Kerajaan Majapahit.
  • Karapan Sapi di Pamekasan, Madura.
  • Candi Penataran.
  • Makam Proklamator Ir Soekarno di Blitar.
  • Air Terjun Sedudo.
  • Tempat peristirahatan Tretes, di kaki Gunung Welirang.
  • Gung Bromo, dengan dataran tinggi Tengger dan Upacara adat.
  • Pantai Pasir Putih.
  • Pemandian Selecta.
10. Kalimantan Barat.


  • Keraton Sambas, bekas peninggalan Kerajaaan Sambas.
  • Keraton Mempawah, bekas Kerajaan Mempawah yang masih terawat dengan baik.
  • Monumen Mandor.
  • Rumah Panjang, rumah tadisional.
11. Kalimantan Selatan.


  • Sungai Barito, yang berfungsi sebagai jalur perhubungan.
  • Air Terjun Batu Kura Bajumi.
  • Museum Banjar Lambung Mangkurat.
  • Goa Beramban, terdapat stalagtif dan stalagmit serta panorama legenda.
  • Upacara Mapanre Tasi di Pantai Pegatan, sebuah upacara adat nelayan.
12. Kalimantan Tengah.

  • Museum Kalimantan Tengah di Palangkaraya.
  • Bukit Rawi, terdapat Sandung Sepudu yang merupakan patung manusia.
  • Pantai Kubu, pantai melengkung dan landai di Teluk Kubu.
13. Kalimantan Timur.


  • Tenggarong, bekas Kerajaan Kutai Kertanegara.
  • Tanjung Isuy, terdapat rumah panjang Suku DAYAK yang masih asli.
  • Tanah Grogot, bekas Kerajaan Pasir Balengkong.
14. Lampung.

  • Pantai Merak Belantung.
  • Krakatau.
  • Taman Purbakala Pugung Raharjo.
  • Air terjun Way Lalaan.
  • Suakan Alam Way Kambas.
15. Maluku.

  • Benteng, Masjid, Gereja, Museum Siwa Lima, dan Tugu Martha Christina Tiahahu di Pulau Ambon.
  • Taman Laut, di sekitar Pulau Pombo dan Pantai Hunimoa di Ambon.
  • Peninggalan sejarah Kesultanan Jailolo.
  • Taman-Taman laut yang indah di Pulau Banda.
  • Sumber air panas di kaki Gunung Mamuya dekat Tobelo.
16. Maluku Utara.
  • Bangunan Kesultanan Ternate.
  • Bangunan Kesultanan Tidore.
17. Nusa Tenggara Barat.

  • Pura Meru, peninggalan kerajaan Singosari sekitar tahun 1720.
  • Taman Narmanda, dibangun oleh Ngurah Karangasem pada tahun 1729.
  • Batu Bolong, di pantai terdapat karang besar dan berlubang.
  • Gunung Pengsong, dengan kera-kera jinak.
  • Pulau Moyo, terdapat berbagai satwa, kunjungan bulan Juni-Agustus.
  • Lunyuk, tempat penyu naik ke darat untuk bertelur.
  • Isatana Sultan Bima.
18. Nusa Tenggara Timur.

  • Desa Tradisional Mantagi dari keturunan Raja Taebanu.
  • Museum Ledalero, di pinggir kota Maumere.
  • Rumah pembuangan Bung Karno di Ende, semasa revolusi fisik.
  • Liang Bua, gua arkeologis.
  • Taman Nasional Pulau Komodo.
  • Perburuan ikan Paus, pada bulan Mei-September.
19. Papua.
  • Pantai Klimpang, di wilayah Deprape.
  • Sky Line, suatu dataran tinggi.
  • Danau Sentani.
  • Gua Binsar, gua Jepang, di desa Ambroben.
  • Taman/hutan wisata Pulau Supiori.
  • Tanjung Kasuari, pantai dengan pasir putih dekat Sorong.
20. Riau.

  • Candi Muara Takus.
  • Pulau Terkulai dan Pulau Soreh.
  • Prasasti Pasir Panjang, di Pulau Karimun.
  • Taman laut, di sekitar Pulau Mapor, Pompong, Galang dan Tanjung Berakit.
  • Makan Sultan Mahmud Syah, sultan Malaka yang terakhir.
  • Suaka alam Kerumutan.
21. Sulawesi Selatan.
  • Makam pahlawan Sultan Hasanuddin.
  • Taman Purbakalan Batupake, terletak di kabupaten Sinjai.
  • Tanjung Bira/Bulukumba, daerah rekreasi pantai, tempat pembuatan perahu tradisional Pinisi.
  • Tanah Toraja, dataran tinggi dengan kebudayaan yang unik.
  • Tangkona, serambi mayat/kuburan di atas tebing, di kabupaten Enrekang.
22. Sulawesi Tengah.
  • Tentana, beksa kerajaan tua di lembah Poso.
  • Sumber air panas Bora, melalui perkampungan dengan struktur asli.
  • Air terjun Wena, yang bersifat alamiah.
23. Sulawesi Tenggara.
  • Pemandian laut Mayaria Kasilampe.
  • Air terjun di Kolaka.
  • Cagar alam kayu kuku di Kolaka.
  • Pemandangan alam di Sampolawa, Button.
  • Pemandangan alam dan pemandian laut Motonu No di Napabale.
24. Sulawesi Utara.
  • Museum Provinsi Sulawesi Utara di Manado.
  • Klenteng Ban Hinag Kiong, klenteng tertua di Indonesia Timur.
  • Makam Kyai Maja, seornag Pahlawan Nasional dalam perang Diponegoro.
  • Benteng Otanaha, tempat perlindungan dan pertahanan raja-raja Gorontalo.
  • Pantai Kema (batu Nona).
  • Taman laut Bunaken, Mado Tua, dan Siladen, di Pulau Bunaken.
25. Sumatra Barat.
  • Museum Adityawarman, menyimpan karya budaya.
  • Pantai Air Manis, perkampungan nelayan dengan panorama pantai yang indah.
  • Jam Gadang, di Bukit Tinggi.
  • Benteng Fort De Kock, di atas bukit di Bukit Tinggi.
  • Ngarai Sianok, lembah dengan tebing curam antara 100-120 meter.
  • Lembah Anai, sebuah lembah antara dua buah gunung yang indah, di Kabupaten Tanah Datar.
  • Danau Maninjau.
  • Tugu Khatulistiwa Bonjol.
26. Sumatra Selatan.
  • Kawah Tengkurep, komplek makam Sultan Machmud Badaruddin I.
  • Pusat tenun Songket, di Palembang.
  • Taman Purbakala Gending Suro.
  • Museum Negeri.
  • Danau Ranau.
  • Air terjun, dengan ketinggian 65 meter.
  • Museum Timah, tersimpan mobil tua Presiden Soekarno di masa revolusi.
27. Sumatra Utara.
  • Istana Maimun/Istana Deli, terletak di dalam kota Medan.
  • Masjid Raya Medan, yang dibangun pada tahun 1906 oleh Sultan Makmun Alrasjid.
  • Pantai Cermin, keindahan alam pantai.
  • Prapat dengan Danau Tobanya, serta Pulau Samosir di tengah-tengahnya.
  • Pulau Nias, kehidupan tradisional suku Nias.
  • Brastagi, panorama alam yang indah.
  • Barusjahe/Lingga, rumah-rumah adata yang telah berumur 250 tahun lebih.
  • Taman wisata Sikundur, merupakan hutan wisata yang kaya akan flora.
28. D.I Yogyakarta.

  • Keraton Yogyakarta.
  • Sasana Wiratama, monumen Pangeran Diponegoro.
  • Pantai Parang Tritis.
  • Museum Sono Budoyo.
  • Kebun Binatang dan kebun raya Gembira Loka.
  • Candi Prambanan.
  • Museum Yogya Kembali.
  • Benteng Vanderbrourgh.
  • Kaliurang.
  • Pantai Baron Kukup.
  • Candi Kalasan.
  • Malioboro.
Itu beberapa objek wisata yang ada di Indonesia, mohon maaf jika ada beberapa lokasi wisata yang tidak tercantum..dan tercatat.

Benteng Yang Ada Di Indonesia

Berikut ini adalah benteng-benteng sejarah yang merupakan peninggalan para nenek moyang di tanah air. Kedelapan benteng tersebut hanya yang terkenal saja beserta tempatnya.





1. Benteng Bonjol (Fort De Kock) di Bonjol, Sumatra Barat.

2. Benteng Sombaupu di Sulawesi Selatan.

3. Bentang Surasoan di Banten, Jawa Barat.

4. Benteng Inong Bale di Aceh.

5. Benteng Jagaraga di Bali.
6. Benteng Kastilia di Saparua.


7. Benteng Duurstede di Saparua.


8. Benteng Marlborough di Bengkulu.


Benteng Marlborough ini juga merupakan tempat wisata yang banyak dikunjungi oleh para wisatawan dalam negeri maupun luar negeri. Sudah seharusnya benteng Marlborough tetap kita jaga agar tetap bisa dijadikan salah satu tempat pariwisata Indonesia.

Senin, 27 Mei 2013

Amazing Kerala

Kerala, a state in southern India, is well-renowned for its backwater system – a network of interconnected canals, lagoons, rivers, lakes and inlets that run inland from the coast and which is spread over an extensive 900 km. The network includes five large lakes linked by canals, both manmade and natural, fed by 38 rivers, and extending virtually half the length of Kerala state. Traditionally, the backwaters are used by local people for transport, fishing, and agriculture. Annual snake boat races, held along the backwaters, also provide a great source of entertainment for the locals and tourists alike. The lagoons and lakes is a lasting source of livelihood for the indigenous people and a popular tourist attraction for the state.

The backwaters were formed by the action of waves and shore currents creating low barrier islands across the mouths of the many rivers flowing down from the Western Ghats range. Fed by the rivers, the backwaters are almost free of salty seawater. In certain areas, such as the Vembanad Kayal, artificial barrage has been built to prevent salt water from the sea from entering the deep inside, keeping the fresh water intact.

kerela-backwaters-5
Photo credit
Many unique species of aquatic life thrive in these water including crabs, frogs and mudskippers, water birds such as terns, kingfishers, darters and cormorants, and animals such as otters and turtles live in and alongside the backwaters. Palm trees, pandanus shrubs, various leafy plants and bushes grow alongside the backwaters, providing a green hue to the surrounding landscape.

Houseboats called kettuvallams are one of the prominent tourist attractions in Kerala. More than 2000 kettuvallams ply the backwaters. The kettuvallams were traditionally used as grain barges, to transport the rice harvested in the fertile fields alongside the backwaters. At some point in time the boats were used as living quarters by the royalty. Converted to accommodate tourists, the houseboats have become floating cottages having a sleeping area, toilets, a dining area and a sit out on the deck. Some ketuvallams are motorised but generally proceed at a slow speed for smooth travel.

kerela-backwaters-14
Photo credit
kerela-backwaters-1
Photo credit
kerela-backwaters-2
Photo credit
kerela-backwaters-18
Photo credit
kerela-backwaters-4
Photo credit
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Photo credit
<SAMSUNG DIGITAL CAMERA>
Photo credit
kerela-backwaters-10
Photo credit
kerela-backwaters-11
Photo credit
kerela-backwaters-15
Photo credit
kerela-backwaters-16
Photo credit
kerela-backwaters-17
Photo credit

Sources: Wikipedia, About

Kamis, 18 April 2013

Wow Ada Pasar Ditengah Rel Kereta Api

Jika rumah dibantaran kereta api mungkin sudah biasa, atau ada pasar yang dilalui kereta api juga biasa dinegera dunia ketiga seperti Indonesia. Lha kalau pasar tradisionil ditengah jalur perlintasan kereta api bagaimana. Ini ada pasar yang pedangan dan barang dagangannya tepat ditengah rel kereta api, Bisa dilihat dari foto pasar ditengah rel kereta api dibawah.

Pasar ini disebut Pasar Railway Maeklong, terletak di Samut Songkhram, Thailand, sekitar 37 km sebelah barat dari Bangkok, tampak seperti pasar terbuka lainnya di Asia. Ada buah-buahan dan sayuran tropis seperti leci, durian, dan mangga besar tumpukan berwarna cerah, berbagai rempah-rempah kering, pasta dan rempah-rempah, makanan laut segar tertangkap dan makanan lokal lainnya. 



Jika sekilas dilihat mungkin kelihatan seperti pasar tradisionil pada umumnya. tapi Ketika ada suara alarm
kereta berbunyi dalam sekejap pasar berubah pembeli menghilang dan penjual mulai minggir dari jalur kereta, hingga kereta lewat baru mereka kembali duduk ditempat jualannya semula. Baru tahu kalau yang lewat beneran kereta api ditengah pasar.



Yang unik dari pasar ditengah jalur kereta api ini, pedagang dan pembeli seperti sudah biasa, tidak ada perasaan takut sedikitpun, takut ketabrak kereta api lewat atau dagangan mereka hancur dilindas kereta api. bayangkan saja pintu perlintasan kereta api pun ada palangnya, buat yang biasa nerobos pintu palang kereta api pun terkadang ada rasa ngeri tapi disini mereka tidak perduli.



Pasar ini telah ada sebelum ada jalur kereta api yang dibangun pada tahun 1905. Kereta berjalan melalui Pasar Kereta Api Maeklong 7 kali sehari, 7 hari seminggu. Di pagi hari, kereta lewat pasar 4 kali. Kereta tiba di 8:40 jam dari Ban Laem Station dan berangkat dari Maeklong (Samut Songkram) Stasiun Kereta Api di jam 9:00. Kereta berikutnya tiba di 11:20 jam dari Ban Laem dan berangkat dari Maeklong (Samut Songkram) Stasiun Kereta Api pukul 11.30 WIB. Pada sore hari, kereta lewat pasar 3-4 kali.
Bener pasar tradisionil yang unik dan menegangkan.